Intrik penguasaan perebutan warisan dalam politik keluarga | LensaIndonesia

Monday, December 1st, 2014

http://www.lensaindonesia.com/2014/03/15/intrik-penguasaan-perebutan-warisan-dalam-politik-keluarga.html

Oleh: JJ Amstrong Sembiring SH MH (Praktisi Hukum)

KATA pepatah bijak orang tua dulu, memakan harta orang lain saudara sendiri dengan cara yang tidak baik, itu termasuk perbuatan dosa, dan mengambil hak orang lain itu, sama seperti meminum air laut, semakin diminum semakin haus, pertanyaan untuk kita semua apakah ada orang suka minur air laut? Jawaban, hanya orang tidak sehat akal pikiran saja yang melakukan seperti itu. Namun anehnya di zaman gila sekarang ada saja orang yang melakukan seperti itu.

Baca juga: Hati-hati soal waris, manusia bisa lupa daratan dan Rebutan warisan, warga Kanung mati dibacok iparnya

Dan tentu juga perilaku seperti itu adalah termasuk perbuatan yang tidak disetujui hukum. Karena Indonesia sebagai Negara hukum, dimana hukum sebagai panglima telah jelas-jelas mengatur hal tersebut, secara konstitusional dijelaskan bahwa ahli waris sah tidak boleh dirugikan hak-haknya.

Hukum mengatur tegas tentang bagian mutlak ahli waris adalah bagian dari suatu warisan yang tidak dapat dikurangi dengan suatu pemberian semasa hidup atau pemberian dengan testament. Dimana bagian mutlak tersebut yang jika dilanggar oleh ahli waris lain maka berarti juga telah melanggar konstitusional (Undang-undang 1945) dimana Hak-hak tersebut antara lain ditegaskan dalam Pasal 28G ayat (1) UUD 1945:

”Setiap orang berhak atas perlindungan diri pribadi, keluarga, kehormatan, martabat, dan harta benda yang di bawah kekuasaannya, serta berhak atas rasa aman dan perlindungan dari ancaman ketakutan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu yang merupakan hak asasi.” Demikian juga pada pasal Pasal 28H ayat (4) UUD 1945: ”Setiap orang berhak mempunyai hak milik pribadi dan hak milik tersebut tidak boleh diambil alih secara sewenang-wenang oleh siapa pun.”.

Maka demikian, juga tidak ada satupun orang yang bisa menciderai ahli waris sah, dimana ia sebagai warga Negara Republik Indonesia memiliki kewajiban hukum dan tanggung jawab untuk menghormati, melindungi, menegakkan hukum serta mentaati peraturan perundang-undangan berlaku. Kewajiban dan tanggung jawab ini tidak hanya amanat undang-undang tetapi bahkan merupakan amanat konstitusi, dimana kewajiban konstitusionalnya ditegaskan dalam Pasal 28 I ayat (5) UUD 1945:

“Untuk menegakkan dan melindungi hak asasi manusia sesuai dengan prinsip negara hukum yang demokratis, maka pelaksanaan hak asasi manusia dijamin, diatur, dan dituangkan dalam peraturan perundang-undangan.”.

Dalam optik hukum, sudah jelas sekali, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata menjelaskan pada pasal 830 menyatakan: “Pewarisan hanya terjadi karena kematian. (KUHPerd. 3, 472.”). Berikutnya pada pasal 832 (s.d.u. dg. S. 1935-486.) menyatakan: “Menurut undang-undang, yang berhak menjadi ahli waris ialah keluarga sedarah, baik yang sah menurut undang-undang maupun yang di luar perkimpoian, dan si suami atau si istri yang hidup terlama, menurut peraturan-peraturan berikut ini.

Bila keluarga sedarah dan si suami atau si istri yang hidup terlama tidak ada, maka semua harta peninggalan menjadi milik negara, yang wajib melunasi utang-utang orang yang meninggal tersebut, sejauh harga harta peninggalan mencukupi untuk itu. (KUHPerd. 141, 520, 852 dst., 862 dst., 873, 1059, 1126 dst.; S. 1850-3.)”

Lalu timbul pertanyaan, mengapa orang tetap saja ada selalu menyimpangi aturan main hukum tersebut? Jawaban tentunya tidak semua manusia seperti itu. mungkin sebagian besar orang memang seperti yang anda sebutkan.

Karakter itu dibentuk oleh keadaan lingkungan keluarga, masyarakat, dan sistem yang ada dalam suatu kelompok, misalnya saja pengacara tertentu yang memang ingin memancing ikan di air keruh atau orang tersebut memang jauh dari ajaran agama, tidak sanggup untuk mengamalkan apa yang menjadi perintah dan tidak bisa menjauhi larangan dalam agama, sehingga orang tesebut akan mementingkan dirinya sendiri tanpa mempedulikan kepentingan saudara atau orang lain.@bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: