Tradisi Mudik Lebaran

Monday, July 6th, 2015

image

MUDIK lebaran merupakan tradisi inklusif, yang di dalamnya mengandung benih ikatan-batiniah sangat dalam kekeluargaan yang luhur. Tradisi mudik dilakukan setiap tahun sekali ini, adalah merupakan proses dari suatu dialektika-budaya yang sudah berjalan sangat lama hingga sekarang. Tradisi yang telah menyatu tanpa batas dengan uniknya dalam masyarakat kita, di dalamnya tertampil suatulukisan kehidupan yang nyata (riil) dari dinamika budaya Indonesia sangat menawan.

Dalam lukisan kehidupan yang nyata itu, dinamikasisasi tradisi mudik penuh dengan pesona kemanusiaan. (Alm) Nurcholis Madjid pernah mengemukakan, Lebaran adalah hari raya kemanusiaan. Karena itu wajar, jika setiap 1 Syawal seluruh umat Islam saling maaf-memaafkan dan saling mengunjungi, sebab sikap seperti itu memang yang dianjurkan agama. Setiap umat islam pada hari Raya tersebut, sepatutnya tampil sebagai manusia dengan nilai-nilai yang setiap setahun. Ttradisi mudik lebaran yang setiap setahun sekali diiringi dengan tradisi minal aidin walfaidzin penuh kemulian mempunyai gravitasi (gaya tarik), hingga membuat anggota masyarakat di dalam komunitasnya tercerai berai oleh karena “gerak-rotasi” pencarian nafkah hidup, yang selalu memendam rasa romantika rindu ingin membangun kembali tali-silaturahmi terhadap orang tua, kakak, abang, adik, sanak keluarga atau teman sejawat yang sudagh lama ditinggalkan. Dalam lintasan waktu tradisi mudik bagi orang tertentu yang telah lama di tanah rantau ternyata juga mampu merangkum beragam bentuk potensial sosial religiusitas yang cukup dalam, selain juga merangkum emosi atau pengukuhan mitos – yang lebih luas. Di dalam tradisi mudik juga harus diakui banyak terakumulasi kesadaran doctrinal, yang mungkin irrasional, yang mungkin menjadi karakter kepribadian setiap manusia, yang mempertaruhkan kehidupannya di Jakarta.

Jika meminjam pemikiran Moslow, orang mudik Lebaran tak lepas secara psiko-sosial karena mereka ingin juga diakui eksistensi-Nya. Pada kenyataan bahwa pengakuan itu memang mahal. Kepada tetangga, para orang tua mereka dikampung halaman bisa berbangga lihat aku punya anak pulang. Terlebih ia bisa menunjukkan, lihat aku suskses di Jakarta.

Ambil contoh lain, tradisi mudik disalah satu tampat di Nusantara, dimana para perantau yang mudik dari kalangan tergolong sukses hidupnya selama diperantauan. Bercerita tentang sebuah kesusksesan yang diraih para perantau itu, terkadang menjadi daya tarik tersendiri bagi warga desa lainnya, terutama dikalangan generasi muda, baik lelaki dan perempuan selalu ingin mengadu nasib di kota.

Ada seorang tokoh agama mengatakan mudik seperti merupakan semacam ritus keagamaan orang naik haji yang seolah menyatakan “Ya Tuhan, lihat aku datang”. Tapi itulah manusia. Mudik juga manusiawi.

Dengan demikian, suatu hal wajar bilaman libido masyarakat tinggi untuk bisa mudik sehingga mudik lebaran merupakan gerak eksodus yang ter-kalkulasi dan inspiratif, acapkali berubah menjadi sebuah gerak percepatan eksodus tak beraturan, terkesan tak rasionil oleh apa yang dilakukan masyarakat kita yang pulang ke kampung halamannya.

Jika mendekati saat menjelang lebaran Idul Fitri. Relatif banyak cerita tentang barang berharga milik mereka yang telah ia atau gadaikan untuk bisa pulang mudik. Sementara ada juga menghutang pada tetangga , teman, saudara atau rentenir kecil atau kelas menengah yang berada ditempat tinggalnya.

Oleh karena itu, seolah dalam keadaan seperti itu maka resiko apapun akan ditempuh agar bisa mudik Lebaran tepat waktunya. Bagi mereka tak ada kata segan-segan mengupayakan berbagai cara melalui percepatan eksodus untuk bisa tiba di kampong halaman-Nya.

Kita bisa menyaksikan bagaimana gelombang manusia yang ada distasiun kereta api atau terminal bus antar kota berlomba-lomba “berjubel-jubel” untuk mendapatkan angkutan kendaraan umum agar bisa mudik serta lebaran di kampong halaman, meski terkadang kerap juga diperlakukan tidak manusiawi sebagai konsumen angkutan umum, serta dijadikan objek. Seperti hal adanya praktik pencaloan, konsumen tidak mendapat informasi yang benar dan jelas, masalah keamanan dan kenyaman serta keterlambatan jadwal keberangkatan.

Diantara mereka tak sedikit mengalami kesulitan mendapat karcis karena kereta api dan bus, kesulitan harus berdiri atau duduk antre selama berjam-jam, kesulitan mendapatkan karcis dengan harga yang wajar karena dinaikan secara berlebihan oleh para awak angkutan umum, yang tidak mengindahkan ketentuan yang berlaku, kesulitan mendapatkan tempat duduk meski sudah membeli karcis.

Bahkan mereka yang banyak memakai angkutan umum jasa kereta api, banyak yang kecewa, mengeluh atau marah-marah kepada petugas kereta api yang dinilai kurang professional, mungkin karena arahan dari pimpinannya juga kurang. Akibat pengaturan perjalanan yang ketat untuk mengejar layanan berdasarkan kuantitas, hal-hal kecil malah tidak diperhatikan hingga menurunkan kualitas pelayanan.

Pertanyaan kenapa hal-hal momentum teristimewa telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat amat sangat penting dan membahagiakan hanya setahun sekali terjadi, bukan menjadi kebiasaan buruk menyedihkan? Seharusnya bukan menjadi repetisi (berulang-ulang) persoalan yang sama? Sebenarnya hal itu perlu disadari oleh semua pihak,  dengan demikian hingga dalam kehidupan mereka belum tentu bisa mengecap kesenangan seperti di hari-hari mudik lebaran seperti ini bisa terwujud.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: